MENEMPATKAN DIRI DENGAN BENAR DI HADAPAN TUHAN

MENEMPATKAN DIRI DENGAN BENAR DI HADAPAN TUHAN
Oleh : Pdt. Leonardo A. Sjamsuri

Ester 5:1-3, “Pada hari yang ketiga Ester mengenakan pakaian ratu, lalu berdirilah ia di pelataran dalam istana raja, tepat di depan istana raja. … Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya” (PL hal. 535)

Ester tidak hanya berpakaian ratu, tetapi dia memposisikan dirinya dengan tepat di hadapan raja. Kita tidak hanya datang ke gereja, tetapi kita datang dengan menempatkan diri dengan benar di hadapan Allah, sehingga Allah berkenan kepada kita dan memberkati kita. Saat kita datang beribadah dan posisi kita benar di hadapan Tuhan, maka Tuhan akan “melihat” kita dan berkenan kepada kita. Sebab itu, datanglah beribadah ke gereja dengan posisi yang benar, jangan hanya “hadir”.

Wahyu 1:9-19, “Aku, Yohanes, .. dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. … Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.”, (PB hal. 293).

Seperti kisah Yohanes diatas, kalau kita berada dalam posisi yang benar, maka kita akan dapat melihat keadaan yang jauh di depan. Sebaliknya banyak orang yang mencari masa depan dari paranormal dan dari kekuatan dunia ini, karena mereka ini tidak ada di dalam posisi yang benar. Tuhan sudah menyatakan kehendak-Nya, tetapi karena kita tidak berada di dalam posisi yang benar, kita tidak dapat mengetahui apa di depan kita. Akibatnya kita menjadi kuatir dan takut akan masa depan.

Posisi kita yang benar akan menentukan berkat dan fasilitas yang akan kita terima. Banyak orang yang mengharapkan berkat dari Tuhan, tetapi tidak mendapatkannya karena tidak dapat menempatkan diri dalam posisi yang benar. Walaupun sudah memberikan perpuluhan, sudah melayani, sudah beribadah, tetapi karena posisi kita tidak benar/tidak tepat di hadapan Allah, maka berkat Tuhan tidak dapat kita terima. (Baca Roma 8:10 dan Matius 13:9). Bagaimana posisi kita akan menentukan cara kerja iman kita.

Mengapa kuasa Tuhan tidak mengalir dari hidup kita, juga karena kita tidak menempatkan posisi dengan benar di hadapan Tuhan. Sama seperti seseorang dengan posisi direktur akan memiliki otoritas yang lebih tinggi saat dia mengeluarkan suatu perintah atau keputusan, daripada seorang dengan posisi karyawan biasa. Cara pandang juga akan berbeda: karyawan biasa melihat masalah sebagai hambatan, seorang manager melihat masalah sebagai tantangan, tetapi seorang direktur melihat masalah sebagai suatu kesempatan untuk memberikan kontribusi.

Seperti anak-anak Skewa yang mencoba melakukan metode dan cara Paulus, namun anak Skewa ini “dicabik-cabik” oleh kuasa gelap, karena anak Skewa ini tidak ada di dalam posisi yang sama yang dimiliki oleh Paulus (Kisah Rasul 19:11-16, PB hal.168). Kalau posisi kita benar, maka kita akan memiliki otoritas dan kuasa.

Cara untuk memiliki posisi yang benar adalah lihat Yehezkiel 37:1-4 (PL hal 936). Yehezkiel tidak dapat melakukan sesuatu yang Tuhan kehendaki kalau dia tidak ada dalam posisi yang benar di hadapan Tuhan.

1. Ijinkan tangan Tuhan membentuk kita (Yeh. 37:1, “Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku..”)

Seringkali tangan Tuhan tidak dapat membentuk kita karena kita berada di zona nyaman. Itulah sebabnya Tuhan suka “menggoncangkan” kehidupan kita. Daud diurapi menjadi raja namun tidak langsung duduk diatas tahta, Tuhan lebih dahulu membimbing dan memproses dia agar Daud benar-benar siap. Dalam proses hidup-lah kita akan melihat dan merasakan anugerah Tuhan yang melimpah. Namun ada dua pilihan yang akan terjadi ketika adanya proses yaitu:

a. Melawan. Artinya kita tetap mengandalkan diri sendiri, akibatnya kita akan semakin sulit dibentuk dan akan “hancur”.

b. Menyerah. Walaupun proses itu rasanya sakit, tetapi tangan Tuhan tidak akan membuat kita hancur, namun akan membentuk kita semakin lebih indah. Kita akan “naik kelas”.

2. Ikuti pimpinan Roh Tuhan. (Yeh 37: 1, “…..Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya”)

Seringkali Tuhan meununtun kita dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan dalam masalah yang kecil sekalipun. Hal ini tidak selalu terjadi di dalam pelayanan atau di gereja, namun sebagai jemaat biasa, dalam rumah tangga kita akan mendapatkan tuntunan Roh-Nya. Caranya adalah belajar TAAT. Ketaatan ini tidak perlu harus kita mengerti lebih dahulu. Taat dulu baru pengertian itu muncul belakangan.

1 Raja-raja 17:2-5 (PL hal. 390), dalam kisah ini yang Tuhan tunggu adalah ketaatan Elia. Begitu Elia melangkah, maka burung gagak akan datang, sebab Tuhan sudah mengeluarkan perintah. Namun, selama Elia tidak melangkah, maka burung gagak itu tidak akan datang.

About kata1kata

some misterious word can not be explained but it can be feel by your heart peace in this world..... Yesus loves and blessing all of you .....
This entry was posted in Tuhan Yesus Memberkati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s