PRINSIP BERBUAH

oleh : Pdt. David Tjakra

Yohanes 15:1-8, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”.
Ada prinsip untuk mempermuliakan dan dimuliakan Tuhan, seperti Yesus dan Yabes dimuliakan. Yabes dimuliakan ketika dia lebih dahulu memuliakan Tuhan dalam hidupnya.

Untuk dapat berbuah harus dimulai dengan menjadi saksi Kristus melalui kehidupan kita (Kis. 1:8). Kita harus “berbuah banyak” artinya bukan hanya 1 bagian saja yang dapat dinikmati, namun segenap bagian hidup kita. Untuk menjadi saksi harus dimulai dari Yerusalem (rumah tangga atau gereja lokal), contohnya adalah Daud (Kis. 13:22). Daud berkenan di hati Tuhan karena ada sesuatu yang dilakukan Daud bagi Yerusalem dan bagi Bait Allah.

Dalam 1 Tawarikh 29:10-15, walaupun Tuhan tidak menghendaki Daud membangun Bait Allah, namun Daud tidak berpangku tangan, dia tetap mempersiapkan sarana dan kebutuhan untuk pembangunan bait Allah. Betapa bersyukurnya kita kalau Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk terlibat dalam pembangunan rumah Tuhan, baik fisik, mental dan spiritual. Tuhan mau agar kita tidak bercela, agar roh, jiwa dan tubuh kita sempurna.

Dalam 2 Korintus 9:6-15, “…Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah…….”
“Ada benih untuk dinikmati dan ada benih yang harus ditabur untuk dilipatgandakan oleh Tuhan”.

Ada 2 macam benih, yaitu benih pertama untuk ditanam dan dinikmati dan benih kedua untuk dilipatgandakan: 30, 60, 100 kali lipat.
Kunci pelipatgandaan itu tergantung kepada diri kita sendiri: apakah kita mau memberkati tubuh Kristus atau hanya menikmati sendiri saja?
Tuhan mau kita mengucap syukur dalam segala hal, baik atau tidak baik keadaannya. Namun, melalui benih yang kita tabur, yang kita lipatgandakan itu akan membangkitkan syukur di dalam diri orang-orang lain, karena kita turut terlibat di dalam memberkati kehidupan mereka.

Ketika kita turut ambil bagian dalam kebutuhan orang-orang di sekitar kita, itulah yang akan melipatgandakan benih yang kita tabur itu. Bahkan buah-buah pelipatgandaan yang dihasilkannya tidak hanya kita nikmati sendiri saja, namun akan juga turut dinikmati oleh anak-cucu generasi penerus kita nantinya. Tapi ini seringkali tidak kita mengerti, kalau pelipatgandaan itu dimulai dengan menjadi berkat bagi sesama tubuh Kristus.

Yudas 11-13, “..Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah. Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri; mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan buah, pohon-pohon yang terbantun dengan akar-akarnya dan yang mati sama seka…..”l

Ada 3 spirit yang harus kita perhatikan yang dapat menghambat kita berbuah, yaitu:

a. “Jalan yang ditempuh Kain”, yaitu spirit iri hati, yang dapat mengakibatkan kita menghakimi orang lain tanpa alasan yang jelas. Spirit ini tidak akan memberikan buah bagi kita, sebab itu kita harus belajar kepada Habel yang memberikan yang terbaik (bdk. Mazmur 120).
Cara melawannya adalah dengan ucapan syukur. Contohnya: turut bersuka cita ketika ada orang-orang yang sukses, datang ke hadirat Tuhan jangan dengan tangan hampa, namun dengan membawa persembahan, ucapan syukur, doa, pujian dan penyembahan.

b. “Kesesatan Bileam”. Spirit mamon. Rela menukar iman kepada Tuhan dengan iming-iming dunia, kompromi dengan dosa. Sudah tahu kebenaran namun karena upah (daya tarik dunia), tetap mau hidup dalam kesesatan dan berpaling dari Tuhan. Walaupun hamba Tuhan, karena hanya melihat upah, tetap melakukan kesesatan.
Cara melawannya: mengembalikan milik Tuhan, perpuluhan (Maleakhi 3:10).

c. “Kedurhakaan Korah”. Spirit pemberontakan, melalui: perkataan, alasan, pikiran.
Cara melawannya: menghormati orang tua (Keluaran 20:12) dan pemimpin.

__,_._,___

About kata1kata

some misterious word can not be explained but it can be feel by your heart peace in this world..... Yesus loves and blessing all of you .....
This entry was posted in Tuhan Yesus Memberkati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s