ALLAH YANG BERDAULAT

ALLAH YANG BERDAULAT
Oleh : Pdt. David Tjakra

Roma 11:33-36, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”. Artinya bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat.

Caranya untuk menempatkan Allah sebagai yang berdaulat dalam hidup kita adalah:

1. Mengubah pola pikiran kita (Filipi 2:5).
Ijinkan pikiran Kristus mendominasi pikiran kita. Mengapa pikiran kita? Karena pikiran adalah benteng yang menghalangi kita untuk mengenal dan melihat Allah (2 Kor. 10:4,5). Ini artinya, pikiran kita harus ditaklukkan terlebih dahulu. Contohnya adalah Yosua dan umat Israel, sebelum memasuki tanah Perjanjian, mereka harus merubuhkan benteng Yerikho terlebih dahulu hanya dengan “percaya” saja. Ini suatu hal yang sangat sulit bagi pikiran dan tidak masuk akal. Yosua dan bangsa Israel disuruh Tuhan untuk mengelilingi benteng Yerikho itu (Yosua 6:1-27), dan ketika mereka percaya dan melakukannya, maka benteng itu runtuh.
Dalam kehidupan kita banyak hal yang sulit. Namun, semuanya itu dapat kita hadapi kalau benteng pikiran yang membatasi kita dirobohkan terlebih dahulu. Kalau benteng itu sudah roboh, maka kita dapat melihat berkat Tuhan. Diperlukan iman percaya untuk dapat melihat perkara ajaib.

2. Diperbaharui dari hari ke sehari (Roma 12:2)
Kita harus mengijinkan Allah masuk ke dalam hidup kita oleh kuasa Roh-Nya, sehingga Dia memiliki akses ke dalam hidup kita untuk melakukan perkara yang ajaib.
Kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Artinya sama persis, hanya kuasa Allah yang membedakan. Namun kuasa itu sudah diberikan kepada kita melalui Yesus (Yohanes 14:12). Jadi tidak ada yang tidak mungkin bagi kita.
Sempurna menurut standar manusia tidak sama dengan standar Allah. Jadi seperti apakah sempurna itu? Lihat contohnya “cerita orang kaya yang bodoh” (Matius 19:16-26). Menurut pandangan manusia dia adalah sempurna. Anak muda ini “menguasai dan melakukan seluruh hukum Taurat”, namun dia tidak layak memperoleh hidup kekal. Jadi seperti apakah “sempurna” menurut pandangan Allah. Bandingkan kisah Zakheus si pemungut cukai di Lukas 19:1-10. Zakheus dalam pandangan orang Israel adalah seorang penjahat yang sangat dibenci oleh orang Israel karena dia memungut cukai dan memeras orang Israel. Namun, mengapa sampai Yesus yang seorang nabi dan guru yang dihormati itu sampai mau menginap dan makan di rumah Zakheus? Ini sangat bertentangan dengan pemikiran murid-murid dan orang banyak itu (Lukas 15:2). Jadi, siapakah yang sempurna itu: anak muda yang kaya atau Zakheus pemungut cukai?
Lihat Lukas 19:8 “Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Ternyata Zakheus yang jahat itu berani melepaskan hak dan milikinya. Dalam pandangan Yesus, Zakheus adalah orang yang sempurna.
Bandingkan Matius 19:21, “Kata Yesus kepadanya (orang muda yang kaya): “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Ternyata orang muda ini tidak melakukan permintaan Tuhan Yesus. (Matius 19:22 “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya”).
Bandingkan Matius 19:29 “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal”.
Selama kita mengikat sesuatu di bumi ini: harta, kebiasaan, emosi dan amarah, maka semuanya akan terikat di surga (Matius 16:18,19). “Jangan ada yang yang mengikatmu di bumi, lepaskanlah agar apa yang di surga di lepaskan bagimu”.
Dalam Lukas 14: 33, sebagai murid tidak boleh ada satu keterikatan pun dalam hidup kita. Lukas 15 mengajarkan kita untuk melepaskan sesuatu:

Contoh:
– Permpamaan tentang domba yang hilang (Lukas 15:1-7). Satu hilang dari 100 = 1%
– Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Lukas 15:8-10). Satu hilang dari 10 = 10%.
– Perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Satu anak hilang dari 2 anak = 50%.
“Jangan puas kalau kita telah memberikan 1%, 10%, 50% dari miliki kita, yang Tuhan cari adalah mempelai-Nya yang memberikan hidup 100%”.

About kata1kata

some misterious word can not be explained but it can be feel by your heart peace in this world..... Yesus loves and blessing all of you .....
This entry was posted in Tuhan Yesus Memberkati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s