TIPIKAL PUJIAN RAJA

TIPIKAL PUJIAN RAJA
Oleh : Pdt. Chris Manusama

Saat kita melakukan pujian dan penyembahan kepada Tuhan, itu berarti bahwa kita sedang melakukan pengumuman atau proklamasi kepada alam semesta/dunia ini, pengumuman tentang fakta-fakta rohani.

Perempuan ini datang masuk “menerobos” orang-orang: para murid-murid dan tuan rumah itu, tanpa memperdulikan sekeliling. Dia datang dengan suatu hasrat dan kerinduan yang dalam untuk bertemu Tuhan. Perempuan itu datang menyembah dengan tersungkur di kaki Tuhan Yesus, maka Tuhan mengatakan “dosamu sudah diampuni”. Hal seperti ini belum pernah terjadi di seluruh Israel. Penyembahan perempuan ini terjadi, karena perempuan ini sudah melihat penghukuman yang (seharusnya) dia terima (akibat dosanya), penglihatan ini membuat dia tersungkur di kaki Tuhan. Penyembahan dari hati yang mengerti akan dosa-dosanya, dari hati yang ditebus dan sudah dikuduskan.

Baca Lukas 7:36-50 (PB hal 79).
Esensi dari ibadah adalah pertemuan dengan Tuhan, dan gerbang masuknya adalah penyembahan. Jadi, betapa pentingnya hati yang menyembah itu kita miliki saat kita datang memasuki ruang ibadah ini. Penyembahan yang kita buat ini akan berdampak kepada kehidupan: usaha, keluarga, pekerjaan dan pelayanan kita. Betapa pentingnya penyembahan ini terlihat saat Tuhan menurunkan sepuluh tulah kepada bangsa Mesir dan Firaun, hanya supaya bangsa Israel dapat keluar dari Mesir dan pergi untuk menyembah Dia.

Seperti apakah pujian yang mau diterima oleh Tuhan kita? Bukan masalah jenis musik dan lagu, tetapi semua ini berurusan dengan hati. Dalam Yohanes 4, “sumur Yakub” adalah gambaran dari apa yang dunia bisa berikan kepada kita. Dalam Yohanes 4:24, kita bisa membaca: “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran”. Tuhan membicarakan keintiman ini dengan seorang pelacur.

Mengapa? Karena perempuan pelacur lebih mengerti tentang keintiman. Hanya dengan perjumpaan di sumur itu, maka perempuan Samaria itu menerima apa yang dia butuhkan. Dampaknya adalah, dia “pergi dan satu kota menerima Yesus”.(PB hal 114) Penghargaan tidak datang dari luar, tetapi datang dari dalam.

Masalahnya, karena kita sering menerima dari luar, dan ketika Tuhan sedang menawarkan hal rohani, kita jadi sulit menerimanya. Misalnya, ketika Tuhan berkata “bahwa kita berharga di mata-Nya”, kalau kita menerima ini, maka itu akan mengubah seluruh kehidupan kita.

Bagaimana kalau kita sedang jatuh dalam dosa? Ketahuilah bahwa kejatuhan dan kegagalan dan kebodohan kita tidak bisa membatalkan rencana Tuhan bagi kita. Yang terjadi adalah penggenapan janji Tuhan itu menjadi membutuhkan proses yang semakin lama dan panjang. Baca Kejadian 29, cerita tentang Yakub, Lea dan Rahel. (PL hal 29).

Mengapa Yakub tidak cinta Lea? Lea berarti “kambing betina”, dia dilahirkan dengan mata yang cacat, sehingga ayahnya menikahkan Lea dengan cara mendustai/menipu Yakub. Lea cacat tetapi Lea melahirkan anak. Sebaliknya, Rahel cantik tetapi mandul. Apa artinya, yaitu bahwa rahim lebih penting daripada wajah/penampilan fisik anda. Bagi masyarakat masa itu, kemandulan adalah suatu aib. Bagi kita, gereja-Nya, berarti: “tidak produktif”.

Dari cerita Lea kita bisa melihat bahwa tidak ada sesuatu yang otomatis/instant, tetapi harus melalui proses. Misalnya, dibutuhkan 4 kelahiran supaya Lea menyadari bahwa penghargaan bukan datang dari luar:

1. Anak pertama: Ruben (“lihat”): “Tuhan memperhatikan”. Lea berusaha mendapatkan cinta Yakub dengan memberikan anak, artinya Lea memakai kedagingan untuk menarik hati suaminya. Maknanya adalah: kita sering berpikir untuk merayu berkat Tuhan dengan cara kita. 2. Anak kedua: Simeon (“dengar”). “Tuhan mendengar” penderitaanku.
3. Anak ketiga: Lewi (“lebih dekat”). “supaya suamiku lebih dekat”, Lea memakai caranya sendiri.
4. Anak keempat: Yehuda (“syukur”): “sekali ini aku bersykur”. Ketika Lea berhenti bersungut-sungut, berhenti mengandalkan caranya, dan dia mulai bersyukur kepada Tuhan. Saat itulah dia mendapatkan kelepasan dan perhentian, ada damai dan penerimaan.

Dibutuhkan 4 kelahiran sampai Lea menyadari bahwa Tuhan menerima dia apa adanya. Butuh proses panjang untuk bisa mengerti bahwa penghargaan datang dari dalam. Saat kita menjadi orang yang bersyukur dan menyembah Tuhan, maka akan datang masanya orang-orang yang pernah melecehkan kita (seperti Rahel cemburu), akan datang menghormati dan menghargai kita. Di masa depan Yehuda ini menjadi rahim para raja-raja Israel. Jadi, raja harus lahir dari penyembahan, lahir dari ucapan syukur.

Tuhan tidak perduli seberapa jatuhnya anda, ketahuilah Tuhan tidak berhenti untuk memulihkan kita. Asal kita berhenti bersungut-sungut, berhenti mengandalkan manusia dan diri sendiri, dan mulai menaikkan syukur dan pujian penyembahan kepada Tuhan.
Baca 2 Korintus 11:1-2, keintiman dengan Tuhan harus kita lakukan dalam kekudusan (seperti perawan suci) PB hal. 223.

About kata1kata

some misterious word can not be explained but it can be feel by your heart peace in this world..... Yesus loves and blessing all of you .....
This entry was posted in Tuhan Yesus Memberkati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s